Haramnya Ucapan Selamat Natal Bagi Umat Islam

Perdebatan mengenai ucapan selamat natal selalu mengemuka ketika hari natal tiba. Ada yang pro, tapi tidak sedikit juga yang kontra. Saya tidak akan membahas kontent-kontent baik dari pihak-pihak yang pro maupun yang kontra terhadap fatwa haramnya ucapan selamat natal.

Makna Toleransi

Katanya kalo nggak mengucapkan selamat natal, berarti kita gak toleran(?!). Ini merupakan kesalahan besar dalam memahami makna toleransi. Toleransi adalah batas-batas penyimpangan yang masih diperbolehkan, masih dimaklumi dan dibiarkan. Toleransi dalam kehidupan sosial bermasyarakat dilakukan oleh mayoritas terhadap minoritas. Artinya, bila ada minoritas yang melakukan hal-hal yang berbeda dari kebiasaan mayoritas dan hal tersebut dibiarkan, berarti kelompok mayoritas telah melakukan toleransi terhadap kebiasaan tersebut.

Jadi, bila kita, umat Islam yang mayoritas, membiarkan umat lain beribadah menurut agamanya, itu adalah bentuk toleransi. Bagaimana dengan turut mengucapkan “Selamat Natal”? Tentu hal tersebut bukan TOLERANSI, melainkan PARTISIPASI.

Read More

Prosedur Memperpanjang STNK 5 Tahunan dan Plat Nomor dari Luar Daerah

Sebelum saya tahu cara memperpanjang STNK 5 Tahunan, saya diberitahu oleh tetangga bahwa motor saya harus dibawa kembali ke daerah asal, karena pemperpanjang STNK 5 Tahunan berarti harus memperpanjang Plat Nomor aka Nomor Polisi.  Jadi motor harus dibawa untuk dilakukan cek fisik. Wah saya pikir repot sekali. Sehingga 2 bulan sebelum masa berlaku STNK habis, saya coba datang ke samsat untuk menanyakan prosedur perpanjangan STNK motor saya.

Untunglah informasi tetangga tersebut tidak benar. Saya tidak perlu membawa motor balik ke daerah asal. Cukup melakukan cek fisik di samsat terdekat, biasa disebut cek fisik bantuan. Untuk melakukan cek fisik bantuan, ada beberapa syarat yang harus dibawa:

  • STNK asli dan foto copy 1 lembar.
  • BPKB asli dan foto copy (BPKB cukup 1 copian saja, tapi ada beberapa halaman).
  • KTP asli dan foto copy 1 lembar.

BPKB asli dan STNK asli nanti dikembalikan setelah proses cek fisik selesai.

Read More

Makna Syetan dibelenggu pada bulan Ramadhan

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh Ra., Rasulullah SAW bersabda: “Apabila bulan Ramadhan tiba, maka dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan syetan-syetan dibelenggu” (HR. Bukhari  dan Muslim)

Para ulama berbeda pendapat dalam memahami makna dibelenggu. Ada banyak sekali tafsir tentang makna dibelenggu dalam hadits di atas. Dari sekian banyak penafsiran, dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar:

Pendapat pertama, dibelenggu mempunyai makna dzahir, yakni makna sebenarnya. Para syetan diikat atau dirantai disuatu tempat. pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

Lantas muncul pertanyaan yang sangat umum, jika syetan memang dirantai, kenapa masih terjadi kejahatan di muka bumi pada bulan Ramadhan? Dari kasus ini,  ulama pada kategori pertama ini memiliki perbedaan pendapat yang lebih beragam.

Ada yang mengatakan, hanya syetan tertentu saja yang dirantai, yakni syetan yang paling membangkang, sehingga syetan-syetan lain masih bisa menggoda manusia.

Ada yang mengatakan, syetan telah mengajarkan kepada manusia, sehingga manusia itu sudah terbiasa berbuat kejahatan. Sehingga meskipun dirantai, masih tetap saja terjadi kejahatan dimuka bumi.

Ada yang mengatakan, syetan tidak mulus dalam melaksanakn aksinya dibulan Ramadhan, tidak seperti pada bulan lain, karena pada bulan Ramadhan ummat Islam sedang banyak beramal ibadah.

Dan masih banyak pendapat lain yang mencoba berargumentasi menjawab pertanyaan di atas.

Yang paling parah menurut saya adalah yang mengatakan bahwa makna dibelenggu merupakan makna sebenarnya (dirantai) namun ketika ditanya mengapa masih ada orang kesurupan jin pada bulan Ramadhan, justru melarang membicarakan makna dibalik itu demi terselamatkan dari kesesatan.

Pendapat kedua, pendapat yang mengatakan bahwa makna dibelenggu bukan makna sebenarnya. ungkapan dibelenggu hanyalah kiasan. Dengan berpuasa, kita mencegah dari mengumbar hawa nafsu. Hawa nafsu terikat, sehingga syetan (yang diartikan sebagai hawa nafsu) terbelenggu.

Pendapat kedua ini sekaligus mampu menjawab pertanyaan dengan lugas, mengapa pada bulan Ramadhan kejahatan bisa terjadi dan masih ada manusia yang kerasukan jin. Tentu saja karena makna syetan yang dibelenggu adalah makna kiasan.

Pendapat tersebut banyak muncul belakangan dari berbagai kajian, namun saya belum menemukan ulama besar yang mengatakannya.

Memahami makna syetan.

Sebelum kita mencoba mengupas makna hadits di atas, ada baiknya kita memahami dulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan syetan. Lihat QS. Al-An’am.

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (QS. AL-An’am: 112)

Juga dalam Surat An-Nas:

Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (QS. AN-Nas:4-6)

Dari kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa syetan hanyalah sebutan atau julukan saja bagi manusia maupun jin yang berperilaku jahat. Syetan bukanlah sebuah makhluk tersendiri di luar manusia dan jin. Juga belum tentu makhluk menyeramkan seperti yang kita bayangkan selama ini, karena ternyata manusia yang berlaku jahatpun disebut syetan (tidak sedikit yang ganteng dan cantik tentunya 🙂 ).

Makna yang tepat.

Setelah mengetahui makna syetan, kita dapat dengan tepat menarik kesimpulan, bahwa yang dibelenggu bukanlah sebuah makhluk. Melainkan sifat dan perilaku jahat pada diri manusia dan jin, jika dan hanya jika manusia tersebut berpuasa dengan benar. Dengan berpuasa, sifat-sifat dan perilaku jahat (syetan) pada diri manusia akan terbelenggu.

Tidaklah mungkin syetan dirantai disuatu tempat, padahal kata “syetan” sendiri digunakan sebagai panggilan buat manusia dan jin. Apakah kita melihat manusia jahat dirantai pada bulan Ramadhan? Tidak bukan? Bahkan yang menjadi ironi adalah tindak kejahatan meningkat dibulan Ramadhan.

Oh, kalo yang di rantai adalah syetan dari golongan jin saja, mungkinkah?

Bisa mungkin bisa tidak, tapi dari konteks hadits di atas tidak. Pertama, dalam hadits tidak disebutkan syetan dari golongan jin. Kedua, syetan, baik dari manusia maupun jin bisa saja bertaubat dan menjadi makhluk yang baik. Jika dirantai, bagaimana dia mau melakukan puasa Ramadhan, melakukan sunnah sahur dan ibadah lainnya?

Fakta inilah yang membuat saya menyimpulkan bahwa makna dibelenggu bukanlah makna sebenarnya. Jika dari pemahaman syetan saja sudah salah, maka memahami makna hadits tentang syetanpun akan salah.

Saya bukanlah seorang ahli hadits. Saya juga tidak bermaksud lancang menafsirkan sebuah hadits. Tulisan ini hanya buah ketidaksetujuan saya dengan tafsiran yang ada. Jika tulisan ini benar, dari Allah jualah datangnya. Jika tulisan ini salah, kesalahan datang dari diri saya yang dhoif ini.

Memandang Masalah Secara Sederhana

Pada akhir revolusi Industri di Inggris, ada dua buah pabrik yang memproduksi makanan kaleng. Sebut saja pabrik A dan pabrik B. Makanan kaleng ini di-packaging lagi menggunakan kardus-kardus besar seukuran satu meter kubik. Kardus-kardus berjejer rapi keluar pabrik dan masuk ke gudang atau kendaraan yang siap mengangkut secara otomatis.

Masalahnya, seringkali otomatisasi packaging tidak berjalan sempurna. Kardus-kardus yang keluar dari ruang packaging kadang-kadang ada yang kosong. Tapi hal itu sulit diketahui karena kardus dalam kondisi tertutup.

Untuk mengatasi hal ini, pemilik pabrik A berpikir keras. Ia mengumpulkan para insinyur agar membantu memecahkan permasalahan yang terjadi di pabriknya. Dibuatlah sebuah project yang menelan biaya sangat besar. Beberapa bulan kemudian, team project dari pabrik A berhasil menciptakan sebuah alat scanning yang mempunyai sensor untuk mendeteksi bila kardus tersebut kosong. Kemudian petugas segera memindahkan kardus kosong tersebut.

Lain pabrik A, lain lagi dengan yang diperbuat oleh pemilik pabrik B. Ia tak perlu waktu berbulan-bulan untuk mengatasi masalah tersebut. Dan tentunya tak perlu mengeluarkan ribuan dollar untuk membiayai project. Cukup dibelinya sebuah kipas angin besar dan di tempatkan dijalur kardus. Jika kardus itu kosong, otomatis akan terdorong oleh angin dan jatuh dari line kardus. Dengan kipas angin ini, secara otomatis kardus tersingkir dari tempatnya semula.

Pemilik pabrik B memandang masalah secara sederhana, bukan sesuatu yang rumit, sehingga didapatkan solusi yang jitu dalam waktu singkat. Sedangkan pemilik pabrik A memandang masalah secara kompleks, memang pada akhirnya ia mampu mendapatkan solusinya, tapi memerlukan waktu dan biaya yang besar.

Istri dan Pengarang Cerpen

“Pa, coba baca pa, karangan adikku” kata sang istri sambil memperlihatkan sebuah email yang dikirim adiknya.

“Apa tuh, ma”?

“Itu kisah adikku waktu kecil” sambungnya bangga.

Sebuah cerpen. Sang suami membaca dengan seksama. Hanya satu halaman, tak perlu waktu lama.

“Hm.. sepertinya papa pernah membaca juga cerpen ini ma. Ceritanya sama persis. Mungkin bukan dia yang bikin”

“Nggak pa, ini karangannya. Memang begitu yang dia alami dulu”

“Nggak mungkin ma. Tadi waktu papa baru baca satu paragraf aja udah dejavu. Kok kayaknya pernah baca gitu.. Trus papa udah nebak akhir kisahnya. Ternyata sama” sang suami berusaha menjelaskan.

“Bukan pa, ini karangan dia. Aku tau betul”

“Yah mungkin saja dia baca dari buku trus ditulis ulang, atau copy paste dari internet”

“Ini karangan dia pa. Kenapa papa tidak percaya?”

“Ah gak mungkin”.

“Pokoknya ini asli karangan dia. Aku yakin betul pa!”

“Tidak mungkin! Bodoh kamu ma”

Deg.

Hening.

Kaget Sang istri. Belum pernah ia dikatakan bodoh oleh suaminya.
Sang istri mulai menitikkan air mata.
Suami terdiam. Dipeluknya kepala istrinya.

“Maafkan papa ma, papa yang salah. Itu memang karangan adikmu. Sungguh cerpen yang sangat menyentuh”.

Sang istri tersenyum mengakhiri tangisnya.

**

Banyak perceraian disebabkan oleh hal-hal sepele. Seperti kisah di atas, tidak penting bagi kita mempertentangkan siapa sebenarnya si pengarang cerpen, mengalah akan menjadi senjata pamungkas untuk mengakhiri segala pertikaian.

Terkadang kita harus mengalahkan ego kita demi memupuk cinta dan kasih sayang. Keutuhan rumah tangga lebih penting dari sekedar memenangkan perdebatan dan pertengkaran.

**Kisah ini kutujukan untuk para suami yang selalu bertikai dengan istrinya.