Yang Belia, Yang Puasa – Mengajarkan Anak Berpuasa Sejak Dini

Materi diambil dari group Whatsapp dengan narasumber Ibu Yeti Widiati, seorang psikolog.

Silahkan menyaksikan Vedeo MarshMallow berikut:

PUASA DAN MARSHMALLOW TEST

Saya kerap memutarkan video Marshmallow Test saat sesi Sharing Parenting pada para orangtua. Biasanya konteks pembicaraan saya adalah mengenai pengaruh memanjakan atau selalu memenuhi keinginan anak.

Read More

Kiat Sehat Selama Puasa

Materi diambil dari diskusi group Whatsapp dengan nara sumber seorang dokter.

I. Puasa Menyehatkan

Sahabat, seperti kita ketahui bahwa perintah berpuasa di bulan Ramadhan Allah sampaikan di QS. Al Baqarah: 183:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Masya Allah, ternyata berpuasa bukan sekedar perintah, namun Allah sudah memberikan banyak sekali manfaat bagi yang berpuasa, termasuk dari sisi ilmu kedokteran.

Seperti firman Allah QS. Al Baqarah: 184.

“….. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Dalam ilmu kedokteran, puasa berarti mengistirahatkan saluran pencernaan (usus) beserta enzim dan hormon, yang biasanya bekerja untuk mencerna makanan terus menerus selama kurang lebih 14-18 jam.

II. Manfaat Puasa Menurut Ilmu Kedokteran

Menurut ilmu kedokteran, ternyata berpuasa memiliki banyak manfaat, diantaranya:

Read More

Makna Syetan dibelenggu pada bulan Ramadhan

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh Ra., Rasulullah SAW bersabda: “Apabila bulan Ramadhan tiba, maka dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan syetan-syetan dibelenggu” (HR. Bukhari  dan Muslim)

Para ulama berbeda pendapat dalam memahami makna dibelenggu. Ada banyak sekali tafsir tentang makna dibelenggu dalam hadits di atas. Dari sekian banyak penafsiran, dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar:

Pendapat pertama, dibelenggu mempunyai makna dzahir, yakni makna sebenarnya. Para syetan diikat atau dirantai disuatu tempat. pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

Lantas muncul pertanyaan yang sangat umum, jika syetan memang dirantai, kenapa masih terjadi kejahatan di muka bumi pada bulan Ramadhan? Dari kasus ini,  ulama pada kategori pertama ini memiliki perbedaan pendapat yang lebih beragam.

Ada yang mengatakan, hanya syetan tertentu saja yang dirantai, yakni syetan yang paling membangkang, sehingga syetan-syetan lain masih bisa menggoda manusia.

Ada yang mengatakan, syetan telah mengajarkan kepada manusia, sehingga manusia itu sudah terbiasa berbuat kejahatan. Sehingga meskipun dirantai, masih tetap saja terjadi kejahatan dimuka bumi.

Ada yang mengatakan, syetan tidak mulus dalam melaksanakn aksinya dibulan Ramadhan, tidak seperti pada bulan lain, karena pada bulan Ramadhan ummat Islam sedang banyak beramal ibadah.

Dan masih banyak pendapat lain yang mencoba berargumentasi menjawab pertanyaan di atas.

Yang paling parah menurut saya adalah yang mengatakan bahwa makna dibelenggu merupakan makna sebenarnya (dirantai) namun ketika ditanya mengapa masih ada orang kesurupan jin pada bulan Ramadhan, justru melarang membicarakan makna dibalik itu demi terselamatkan dari kesesatan.

Pendapat kedua, pendapat yang mengatakan bahwa makna dibelenggu bukan makna sebenarnya. ungkapan dibelenggu hanyalah kiasan. Dengan berpuasa, kita mencegah dari mengumbar hawa nafsu. Hawa nafsu terikat, sehingga syetan (yang diartikan sebagai hawa nafsu) terbelenggu.

Pendapat kedua ini sekaligus mampu menjawab pertanyaan dengan lugas, mengapa pada bulan Ramadhan kejahatan bisa terjadi dan masih ada manusia yang kerasukan jin. Tentu saja karena makna syetan yang dibelenggu adalah makna kiasan.

Pendapat tersebut banyak muncul belakangan dari berbagai kajian, namun saya belum menemukan ulama besar yang mengatakannya.

Memahami makna syetan.

Sebelum kita mencoba mengupas makna hadits di atas, ada baiknya kita memahami dulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan syetan. Lihat QS. Al-An’am.

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (QS. AL-An’am: 112)

Juga dalam Surat An-Nas:

Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (QS. AN-Nas:4-6)

Dari kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa syetan hanyalah sebutan atau julukan saja bagi manusia maupun jin yang berperilaku jahat. Syetan bukanlah sebuah makhluk tersendiri di luar manusia dan jin. Juga belum tentu makhluk menyeramkan seperti yang kita bayangkan selama ini, karena ternyata manusia yang berlaku jahatpun disebut syetan (tidak sedikit yang ganteng dan cantik tentunya 🙂 ).

Makna yang tepat.

Setelah mengetahui makna syetan, kita dapat dengan tepat menarik kesimpulan, bahwa yang dibelenggu bukanlah sebuah makhluk. Melainkan sifat dan perilaku jahat pada diri manusia dan jin, jika dan hanya jika manusia tersebut berpuasa dengan benar. Dengan berpuasa, sifat-sifat dan perilaku jahat (syetan) pada diri manusia akan terbelenggu.

Tidaklah mungkin syetan dirantai disuatu tempat, padahal kata “syetan” sendiri digunakan sebagai panggilan buat manusia dan jin. Apakah kita melihat manusia jahat dirantai pada bulan Ramadhan? Tidak bukan? Bahkan yang menjadi ironi adalah tindak kejahatan meningkat dibulan Ramadhan.

Oh, kalo yang di rantai adalah syetan dari golongan jin saja, mungkinkah?

Bisa mungkin bisa tidak, tapi dari konteks hadits di atas tidak. Pertama, dalam hadits tidak disebutkan syetan dari golongan jin. Kedua, syetan, baik dari manusia maupun jin bisa saja bertaubat dan menjadi makhluk yang baik. Jika dirantai, bagaimana dia mau melakukan puasa Ramadhan, melakukan sunnah sahur dan ibadah lainnya?

Fakta inilah yang membuat saya menyimpulkan bahwa makna dibelenggu bukanlah makna sebenarnya. Jika dari pemahaman syetan saja sudah salah, maka memahami makna hadits tentang syetanpun akan salah.

Saya bukanlah seorang ahli hadits. Saya juga tidak bermaksud lancang menafsirkan sebuah hadits. Tulisan ini hanya buah ketidaksetujuan saya dengan tafsiran yang ada. Jika tulisan ini benar, dari Allah jualah datangnya. Jika tulisan ini salah, kesalahan datang dari diri saya yang dhoif ini.