Yang Belia, Yang Puasa – Mengajarkan Anak Berpuasa Sejak Dini

Materi diambil dari group Whatsapp dengan narasumber Ibu Yeti Widiati, seorang psikolog.

Silahkan menyaksikan Vedeo MarshMallow berikut:

PUASA DAN MARSHMALLOW TEST

Saya kerap memutarkan video Marshmallow Test saat sesi Sharing Parenting pada para orangtua. Biasanya konteks pembicaraan saya adalah mengenai pengaruh memanjakan atau selalu memenuhi keinginan anak.

Marshmallow Test sendiri adalah experimen terkenal yang sudah dilakukan puluhan tahun lalu. Kesimpulan dari experimen ini adalah bahwa anak yang diajari untuk menunda kepuasan memiliki peluang lebih sukses di kemudian hari sebagai orang dewasa. Anda bisa lihat bagaimana Marsmallow Test di dalam video ini dan ragam bentuknya via Youtube, dan tentu saja anda sangat bisa melakukannya sendiri baik terhadap anak, siswa atau bahkan diri sendiri, dengan berbagai penyesuaian.

Menunda kepuasan (delayed gratification) adalah fondasi awal pengendalian diri. Sehingga seseorang yang berhasil melakukannya akan lebih terlatih untuk mengendalikan diri terhadap berbagai godaan dari lingkungan yang beragam dengan tingkat kesulitan yang beragam pula.

Bila seseorang berhasil mengatasi godaan yang ringan, maka hal itu akan menjadi kekuatan baginya untuk mengatasi godaan yang lebih besar, misalnya, godaan materi, seksual, kekuasaan, reputasi, kesombongan, keserakahan, dll.

Kalaulah puasa itu adalah salah satu cara untuk melatih kendali diri, maka apakah kita pernah menguji kemampuan kendali diri kita seperti yang dilakukan dalam Marshmallow Test?

MENGAJARKAN SHAUM PADA BALITA

1. Berikan contoh. Shaum adalah ibadah yang “tidak nampak” dalam artian tidak seperti salat, ada gerakan yang ditampilkan, syahadat ada ucapan yang dilafalkan, zakat ada sejumlah dana yang dikeluarkan dan haji ada rangkaian kegiatan yang dilakukan. Maka Shaum “hanya” memindahkan dan menghilangkan waktu makan. Sementara makan adalah hal alamiah yang dilakukan.
Sehingga yang perlu diperlihatkan dan dicontohkan pada anak adalah, bagaimana libatan emosi orang disekelilingnya saat melakukan shaum. Tetap semangat, tersenyum, melakukan aktivitas secara biasa dan tidak mengeluh saat shaum adalah contoh terbaik bagi anak.

2. Ajak anak sahur sekalipun dia belum tentu berpuasa. Libatkan pula anak dalam seluruh kegiatan ibadah di bulan Ramadhan, menyiapkan shahur dan berbuka, tarawih, tadarus, dlsb.

3. Ajak anak mengisi waktu dengan aktivitas produktif selama shaum, sehingga ia tahu ada banyak pilihan cara untuk mengalihkan perhatian dari rasa lapar atau secara keseluruhan ia tahu bagaimana cara mengendalikan dorongan—dorongannya.

4. Sering-sering memuji usahanya. Tak perlu mengabaikan keluhannya saat lapar atau haus, misalnya dengan mengatakan “Ah, masa sih kamu haus …” Lebih baik mengatakan, “Iya ya memang haus, bunda juga haus. Gimana ya caranya supaya kita bisa tahan hausnya? Kalau bunda sih biasanya …. (ceritakan ragam alternatif cara yang bisa dilakukan).

5. Membandingkan dengan anak lain, misalnya, “Tuh anak lain saja bisa, masa kamu gak bisa.” Di satu sisi akan menumbuhkan rasa kompetisi dan gengsi, namun di sisi lain juga membuat dorongan shaum lebih karena faktor eksternal, ingin terlihat baik di mata orang lain.

6. Sering-seringlah bercerita tentang keuntungan-keuntungan orang yang berpuasa, tentang hikmah sabar, kemampuan menahan diri, dlsb. dengan berbagai kisah. Kisah para Rasul, shahabat, fabel (cerita binatang), atau bahkan kisah-kisah keseharian. Termasuk mengingatkan keberhasilan anak saat bersabar dalam keseharian.
Cerita Rasul dan Shahabat bisa membentuk value dan target ideal jangka panjang. Sementara cerita keseharian akan menjadi contoh konkret bagaimana kesabaran dan menahan diri itu diterapkan.

7. Tumbuhkan kebanggaan pada anak bahwa shaum (dan juga ibadah lainnya) adalah baik, hebat, terpuji, dan bagian dari identitas dirinya sebagai seorang muslim. Sehingga sekalipun orang lain di sekitarnya tidak berpuasa (dengan berbagai alasan), ia tetap berusaha mempertahankan puasanya.

8. Ajarkan dan contohkan untuk tidak makan di tempat umum saat Ramadhan, apalagi memamerkan diri saat tidak berpuasa. Karena prinsip shaum adalah bersabar dan menahan diri bukan hanya terhadap makan dan minum tapi terhadap berbagai dorongan lainnya. Perlu ditumbuhkan rasa malu jika tidak berpuasa dan rasa hormat terhadap orang yang sedang berpuasa.

Catatan: para ibu yang sedang tidak berpuasa, sampaikan secara terbuka pada anak, kalau hari itu sedang tidak puasa, sehingga anak tidak heran jika tiba-tiba menemukan ibunya makan/minum di rumah.

9. Sebelum tidur, lakukan sugesti dengan bisikkan lembut di telinganya. Hindari menggunakan kata “Jangan atau Tidak” karena membuat proses pengolahan informasi di otak menjadi lebih lambat. Baiknya katakan (boleh dimodifikasi sesuai kebiasaan dan kenyamanan), “Adek pinter, besok bangun dan ikut shahur dengan senang sekali.”

10. Lakukan kembali sugesti yang sama saat anak sedang tidur.

11. Saat membangunkan, usap lembut kepala atau bagian tubuh yang lain. Bisikkan kembali dengan lembut di telinga anak.

12. Bila anak tetap tidak bangun, gendong anak, kemudian pangku hingga duduknya tegak. Beri waktu ia untuk benar-benar terjaga. Oleh karena itu hindari membangunkan anak terlalu tergesa mendekati waktu imsak. Beri waktu sekitar 15-30 menit sebelum shahur.  Anak bisa bermain atau melakukan aktivitas lainnya terlebih dahulu kalau jarak waktunya masih terlalu jauh.

KETIKA ANAK BERHASIL SHAUM

Reward adalah hal yang diharapkan oleh siapa pun saat mencapai keberhasilan. Reward yang paling berpeluang mempertahankan perilaku adalah reward yang bersifat intrinsik atau yang tumbuh dari dalam diri. Perasaan bangga karena bisa, perasaan senang karena berhasil jauh lebih kuat dibandingkan dengan kesenangan karena memperoleh materi (ekstrinsik).

Reward berupa materi (barang, uang, janji main ke Ragunan, dll) sekalipun boleh diberikan namun perlu dilakukan dengan sangat berhati-hati. Reward materi tidak efektif bila terlalu kecil (tidak menarik). Sebaliknya bila terlalu besar, bisa menimbulkan perilaku yang lain (misal, pamrih dan ketidak-jujuran).

Saya pribadi mengizinkan anak memperoleh hadiah yang bersifat konsekuensi logis, misalnya, apabila anak berhasil shaum beberapa hari (tergantung usia), maka saya mengizinkan anak berbuka dengan makanan yang disukainya (Es krim, Jelly, dll). Jadi hadiah itu hanya ada setelah beberapa hari. Sehari-hari berbuka biasa saja. Saat meningkat lebih besar (usia TK), maka saya mengizinkan anak untuk membeli barang yang diinginkannya bila berhasil shaum.

Catatan: Penetapan hadiah harus dilakukan sebelum puasa, saat tidak lapar dan didiskusikan dengan anak. Karena menetapkan hadiah saat lapar biasanya menjadi tidak obyektif (terlalu besar/berlebihan).

Semakin besar anak, saya tidak lagi memberikan hadiah pada anak terkait dengan shaum.

{2} Thoughts on “Yang Belia, Yang Puasa – Mengajarkan Anak Berpuasa Sejak Dini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*